Ketika Dokter Jatuh Sakit (prolog) No ratings yet.

Lupus CareBanner, Karya Odapus

dokter-bisa-sakit

Oleh Annisa Budiastuti
Dokter, Odapus

Karena dokter hanyalah manusia biasa.
Maka yang sakit boleh menjadi dokter dan yang menjadi dokter pun bisa sakit.

PROLOG

Setiap catatan perjalanan memiliki kisahnya masing-masing. Kisah yang indah ataupun buruk, senang maupun sedih, semuanya sarat akan makna, selama kita dapat membuka hati untuk menerima hikmah darinya. Setiap profesi memiliki perjuangannya masing-masing. Setiap langkah dapat bernilai ibadah, tergantung bagaimana cara kita menjalaninya.

Mengawali masa remaja sebagai Odapus (Orang dengan Lupus) bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Lupus adalah salah satu penyakit autoimun, yaitu penyakit yang terjadi akibat imunitas atau kekebalan tubuh seseorang yang bekerja salah arah dan menyerang tubuhnya sendiri. Masa remaja identik dengan masa-masa paling indah, saatnya mencoba berbagai hal baru, mendapat pengalaman baru, dan menemukan jati diri. Bukan hal mudah jika seorang remaja yang seharusnya aktif berkegiatan di luar rumah, malah dilarang untuk menantang teriknya matahari. Tidakkah menjadi tekanan batin, jika seorang remaja yang sewajarnya berkeliling kota mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikulernya, namun justru harus berkeliling dokter, rumah sakit, laboratorium, dan apotek untuk sekadar bisa beraktivitas biasa tanpa rasa nyeri?

Empat belas tahun saat itu usia saya, saat dokter mendiagnosis saya dengan penyakit Lupus. Demam yang hilang timbul, nyeri sendi, sariawan, sakit kepala, sesak nafpas, sudah menjadi gejala harian yang sering saya rasakan sejak lulus sekolah dasar. Jangan ditanya berapa kali saya dan kedua orang tua saya sudah mengunjungi dokter dan mencari pengobatan demi kesembuhan saya. Saya jarang masuk sekolah. Obat apa pun yang saya minum hanya berefek sesaat, lalu keluhan timbul kembali terutama saat saya dilanda cemas dan stres. Saat itu saya bersekolah di sebuah pesantren, sekolah asrama yang jauh dari kedua orang tua. Kami hanya bertemu paling cepat sebulan sekali. Kegiatannya pun padat, seperti layaknya sekolah pesantren pada umumnya. Barangkali hal tersebut yang mencetuskan keluhan-keluhan saya muncul.

Tahun 2004, masih sangat awam di telinga masyarakat mengenai penyakit Lupus. Pakar di bidangnya pun belum begitu banyak, tidak seperti saat ini. Dokter menjelaskan bahwa penyakit Lupus adalah salah satu jenis penyakit autoimun, yaitu penyakit yang diakibatkan oleh sistem imun pada dirinya yang bekerja salah arah menyerang organ tubuhnya sendiri. Sungguh aneh bagi saya, ada penyakit seperti itu. Saya yang tidak suka pelajaran Biologi, mulai membuka-buka kembali buku pelajaran saya, barangkali saja saya kurang giat menghafal sehingga asing dengan kata-kata itu. Namun memang tidak ada pembahasan seperti itu. Jangankan anak SMP seperti saya, kata Dokter yang menangani saya saat itu, seorang dokter pun bahkan belum tentu bisa menjelaskan dengan baik tentang penyakit Lupus. Mungkin hanya pernah sebatas mendengar, tahu, tetapi ahli yang memahaminya hingga mendalam masih sangat terbatas. Mendengar penjelasan tersebut, mulai terbersit dalam benak saya, ingin rasanya bisa menjadi salah satu dari ahli penyakit ini, suatu saat nanti. Bahkan keinginan itu muncul saat saya belum benar-benar tahu apa itu Lupus.

Seiring berjalannya waktu, kegigihan keluarga, terutama orang tua yang tak mengenal lelah, berikhtiar demi kesembuhan saya, mulai menampakkan hasil. Kondisi saya membaik. Gejala-gejala yang biasa saya alami mulai jarang muncul. Penerapan pola hidup sehat terutama dalam hal makanan sangat menunjang perbaikan kesehatan saya. Kami menghindari makanan dengan 5P: perasa, pewarna, pemanis, penyedap, dan pengawet. Kami juga memperbanyak konsumsi buah sayur dan meminum air putih. Akhirnya saya dapat mengurangi hingga melepas obat dengan sehat, tanpa adanya keluhan yang berarti. Kondisi demikian dinamakan remisi. Akan tetapi, tidak ada yang menjamin Lupus akan ‘tidur’ selamanya, karena pada dasarnya Lupus adalah penyakit yang sampai saat ini belum bisa disembuhkan, sehingga dapat muncul kembali sewaktu-waktu di saat yang tidak terduga.

Kondisi sehat ini membuat impian saya melayang jauh. Saat itu saya duduk di bangku SMA, saat-saat persiapan menuju jenjang pendidikan yang akan menentukan profesi saya ke depannya. Saya kembali teringat akan impian saya dahulu, yakni ingin mendalami Lupus. Saya ingin mengetahui lebih jelas segala hal tentang Lupus dan membantu sebanyak mungkin Odapus dengan ilmu yang saya miliki. Jadi, harus menjadi apa saya?

Akhirnya dengan dukungan orang-orang terdekat, saya pun mantap untuk memilih Fakultas Kedokteran sebagai jurusan pilihan di SNMPTN. Biidznillah, atas izin Allah SWT saya pun diterima sebagai mahasiswa baru jurusan Pendidikan Dokter FK UNS Angkatan 2008.

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa FK sudah tidak diragukan lagi kesulitannya, baik fisik maupun mental, kami ditempa dengan baik oleh guru-guru kami. Seorang dokter harus kuat fisik dan mentalnya, namun juga baik akhlak dan lembut hatinya, begitulah pesan beliau, guru-guru kami tercinta. Kondisi ini sudah pasti mencetuskan stres yang cukup berat bagi saya. Akibatnya, seringkali kesehatan saya menurun. Lupus saya bangun dari tidur panjangnya dan menyebabkan berbagai keterbatasan fisik yang berarti. Hampir-hampir saya menyerah dan mengubur impian yang sempat terajut manis. Jikalau saya mampu bertahan sampai akhir, semua itu adalah semata karunia dari Allah SWT.

Pahit getir perjuangan sebagai Odapus dan mahasiswa kedokteran tidak lantas berakhir begitu saja setelah lulus. Perjuangan yang sesungguhnya bahkan baru dimulai ketika saya masuk dalam hutan belantara setelah mengucap sumpah dokter. Dunia pekerjaan memang rumit dan seringkali tak hanya menguras peluh namun juga air mata.

Maka saya ingin menulis dan berbagi. Menulis sebagai bentuk self healing juga pengingat bagi saya pribadi. Bahwa saya pernah melewati masa-masa sulit. Saya pernah berhasil berdamai dengan kondisi buruk. Jika saya pernah bisa, maka seharusnya saya akan selalu bisa menghadapinya.

Semoga dari sekelumit kisah perjalanan yang saya bagi ini, bisa memberikan penghiburan bagi yang sedih, penyemangat bagi yang putus asa, dan yang terpenting adalah inspirasi ketaatan pada Allah SWT, sehingga tulisan ini menjadi bentuk sedekah. Semoga tiap huruf yang saya tuliskan menjadi kebaikan, bahkan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir sampai di saat Allah SWT telah memanggil saya kelak. Allahumma Aamiin.

(bersambung ke part 1)

Please rate this

Komentar