Ketika Dokter Jatuh Sakit (bagian 2) 2.5/5 (2)

Lupus CareKarya Odapus

dokter-bisa-sakit

Oleh Annisa Budiastuti
Dokter, Odapus

Sambungan dari part 1

PART 2: KESABARAN TANPA BATAS

“Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.” (Nasehat Ali bin Abi Thalib)

Sabar, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun seringkali sulit untuk dilakukan. Profesi dokter adalah salah satu profesi yang menuntut kesabaran tinggi. Terkadang saya merasa, kesabaran seorang dokter bahkan harus melebihi kesabaran manusia pada umumnya. Dimulai sejak masa pendidikan yang panjang dan melelahkan, ditempa dengan berbagai tugas akademis maupun sosial, tidak memiliki waktu istirahat yang cukup, apalagi hanya untuk sekadar berlibur atau refreshing. Dalam kondisi fisik dan psikis yang lelah seperti ini pun tidak ada celah untuk berbuat kesalahan. Karena lelah sama sekali bukan alasan. Lalu setelah lulus dari pendidikan, jangan harap bisa menjalaninya tanpa hambatan. Ujian kesabaran pun akan selalu datang silih berganti, bahkan cenderung bertambah dari hari ke hari, sejalan dengan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang dokter.

Orang sakit, terutama dengan penyakit kronis, mungkin telah lama kehilangan nikmat sehatnya, sehingga ia akan sering mengeluh, berkata ketus kepada orang lain, dan tidak jarang pula yang berkata kasar bahkan kepada dokter yang merawatnya, alih-alih menghormatinya sebagai orang yang membantu proses kesembuhannya. Seperti yang kita ketahui, banyak beredar berita tentang penganiayaan terhadap dokter dengan berbagai alasan, baik dilakukan oleh pasien, keluarga, maupun pihak yang mengaku berkuasa.

Bagaimanapun kondisinya, seorang dokter selalu dituntut untuk sabar dan berhati besar. Karena saat seorang dokter mengedepankan ego dan emosinya, tidak jarang ia akan ditinggalkan pasien, bahkan mendapat masalah karenanya. Walaupun mungkin saja terapi yang diberikannya adalah yang terbaik di seluruh dunia. Sebaliknya, seorang dokter bisa dicintai karena kesabarannya, meskipun terapinya hanyalah berupa obat-obatan yang sederhana. Karena kesembuhan tidak hanya mengandalkan obat, namun ada banyak faktor yang berperan di dalamnya.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) shalat; karena sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 153)

Sabar dan shalat adalah senjata seorang mukmin dalam menghadapi segala kesusahan di dunia. Bagi seorang dokter, dapat memeriksa pasien dengan baik sampai menemukan diagnosis yang tepat dan memberikan terapi yang terbaik bukanlah sesuatu yang mudah. Kesulitan itu akan menjadi mudah hanya jika Allah yang memudahkan dengan pertolongan-Nya. Maka sebagai seorang dokter muslim yang mukmin, sudah sepantasnya kita memperpanjang urat sabar kita, apa pun kondisi yang kita hadapi. Meski tidak jarang kesulitan itu bukan hanya berasal dari pihak pasien, namun juga dari rekan kerja, lingkungan sekitar, bahkan keluarga kita sendiri. Ujian kesabaran memang tidak ada batasnya, namun Allah SWT juga telah menjamin kita dengan menyempurnakan pahala tanpa batas bagi mereka yang bersabar. Seperti yang tertuang dalam firman-Nya,

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az-Zumar:10)

Seperti halnya iman yang naik dan turun, kesabaran bisa saja terlepas begitu saja di saat keimanan kita turun. Saat itu terjadi, mungkin secara tidak sengaja kita membalas perkataan kasar dengan intonasi yang tinggi. Maka segeralah beristighfar, mohon ampunan pada Nya, lalu ingatlah kembali firman-firman-Nya yang mulia, bahwa Allah SWT akan mencintai dan selalu beserta orang-orang yang sabar.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Anfal: 62)

Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah yang sangat dicintai-Nya saja tak lepas dari berbagai ujian yang luar biasa dahsyatnya. Cacian, hinaan, bahkan fitnah yang menimpa Rasul kita yang mulia ini, tidak sama sekali mengurangi kelembutan tutur kata dan kesempurnaan akhlaknya. Lalu sebagai hamba yang hina dan penuh dosa, pantaskah kita berkata dan bertindak kasar hanya karena sedikit saja ujian yang menimpa diri ini?

Sebagai seorang dokter yang juga sering merasakan berada di posisi pasien, sedikit banyak saya bisa memahami lelahnya ikhtiar untuk mencapai kesembuhan. Menjadi pasien adalah ujian yang berat. Tidak semua orang mampu menanggung beratnya rasa sakit, keterbatasan dalam beraktivitas, mungkin pula kesulitan ekonomi akibat sakit yang dideritanya. Sungguh menguras emosi dan tenaga, peluh dan air mata.

Roda kehidupan terus berputar. Menjadi apa kita saat ini, semua adalah bagian dari takdir dan kuasa-Nya. Meskipun segala usaha dan pengorbanan telah banyak kita lakukan, namun semua tidak akan pernah terjadi tanpa kehendak-Nya. Jika sekarang kita gagah berdiri sebagai seorang dokter, apakah ada jaminan bahwa besok kita tidak akan terkapar sebagai pasien?

Perasaan inilah yang menajamkan empati saya kepada pasien, sehingga kesabaran dapat tumbuh semakin subur. Selelah-lelahnya bekerja, saya masih bisa makan dengan enak, berjalan dengan leluasa, dan menghela napas dengan lega. Apa sulitnya sedikit bersabar menghadapi keluhan pasien yang mungkin terdengar tidak ada habisnya itu?

Lalu bagaimana jika seorang dokter sakit? Bukankah ujian kesabarannya menjadi semakin berlipat ganda?

Jawabannya, “Ya”. Tentu saja, bekerja dalam kondisi sakit sangat tidak mengenakkan. Dituntut untuk selalu tersenyum ramah sementara badan rasanya nyeri tidak karuan. Kadang saya ingin menangis saat ada seorang pegawai yang datang meminta surat keterangan sakit hanya karena merasa hidungnya tersumbat atau sedikit pusing. Saya tidak ingin berburuk sangka. Namun rasanya hati teriris. Saya mungkin lebih layak mendapatkan surat keterangan itu daripada dia.

Memang begitulah adanya. Dokter dituntut untuk selalu prima. Padahal dokter hanyalah manusia biasa. Ada kalanya ingin mengeluh, merasa lelah, dan ada saatnya raga tak kuat menanggung beban hingga jatuh sakit. Karena hidup sehat bagi dokter itu seringkali hanya terori. Anjuran untuk makan tepat waktu dan istirahat yang cukup, tak mampu diterapkan oleh dirinya sendiri.

Bersabarlah, ini adalah ujian. Sungguh, hidup ini tak pernah lepas dari ujian. Namun alangkah bahagianya kita sebagai seorang mukmin. Karena apa pun yang terjadi pada seorang mukmin akan menjadi kebaikan, tentunya dengan syarat, seperti yang tertuang dalam sabda Rasulullah SAW:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim)

Maka sudah sepantasnya kita selalu mengedepankan sabar dan syukur dalam setiap keadaan yang menimpa diri kita agar selalu mendapatkan kebaikan. Setiap mukmin akan selalu diuji dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan kesanggupannya. Maka tidak perlu demikian risaunya jika Allah SWT mengambil sedikit dari nikmat yang telah Ia berikan kepada kita. Karena sejatinya semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

‘‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS Al-Baqarah: 155-156)

Karena dunia hanyalah sementara, sedang akhirat selamanya. Masa bersakit-sakit adalah di dunia, sedang beristirahat dengan tenang, ada masanya kelak di akhirat sana. Bersabarlah.

(bersambung)

Please rate this

Komentar