Ketika Dokter Jatuh Sakit (bagian 1) 0/5 (1)

Lupus CareKarya Odapus

dokter-bisa-sakit

Oleh Annisa Budiastuti
Dokter, Odapus

baca prolog sebelumnya

PART 1: MENGENAL LUPUS, BELAJAR MENCINTAI RASA SAKIT

Memaknai sebuah peristiwa sebagai anugerah atau musibah, sesungguhnya semua itu hanyalah soal sudut pandang. Bagaimana peristiwa tersebut pada akhirnya berdampak di dalam kehidupan. Jika suatu hal bisa membuat kita semakin dekat pada Allah SWT, meskipun buruk di mata seluruh manusia, bisa saja disebut sebagai anugerah. Begitu pula sebaliknya. Bila apa yang disebut baik, namun justru menjauhkan kita dari ketaatan pada Allah SWT, bukankah lebih layak disebut musibah? Karena sesungguhnya, hendak bahagia atau terluka, itu hanyalah hasil pengelolaan hati atas sebuah takdir yang telah digariskan-Nya. Tentunya, sekadar setitik perasaan kita itu takkan pernah mampu mengubah keadaan sama sekali.

Saya terbelenggu perasaan benci terhadap Lupus selama bertahun-tahun. Bagaimana tidak? Dia sudah merenggut masa remaja saya. Dia sudah merampas masa depan saya. Dia membuat saya harus lebih banyak istirahat ketimbang beraktivitas. Siapa bilang di rumah saja tidak lelah? Justru lebih lelah, apalagi kalau tidak ikhlas.

Saya menuruti anjuran dokter dan perintah orang tua untuk hidup sehat demi apa? Demi sebuah kemarahan yang tak terbalaskan. Saya marah pada Lupus, juga pada diri saya yang begitu lemah karena mau-mau saja dikalahkan oleh penyakit ini. Saya ingin sembuh karena saya membencinya. Energi kebencian ini terlampau besar, sampai-sampai saya tak memiliki keinginan untuk memahaminya. Saya sama sekali tidak mengenalnya dengan baik.

Maka ketika saya mencapai remisi–terbebas dari obat-obatan dengan kondisi fisik yang stabil, saya merasa hebat. Saya ingin mengatakan pada Lupus, “Hai, kamu sudah saya taklukkan!” Sombong sekali. Sayangnya, saya belum cukup memahaminya, sehingga saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya akan membuat dia tidur atau bangun.

Banyak hal terjadi, hingga Lupus dalam diri ini pun bangun kembali. Betapa terkejutnya saya. Harusnya saya tahu sejak awal, sehingga bisa mempersiapkan diri, agar tidak jatuh terlampau jauh. Tapi nyatanya? Lupus membenamkan saya ke dasar bumi, dan saya hampir saja berputus asa karenanya.

Saya benci. Saya ingin terbebas darinya. Saya ingin mencakarnya, menariknya dari dalam darah saya hingga pergi, sejauh-jauhnya, selama-lamanya. Kemarahan yang wajar, bukan? Karena yang saya hadapi adalah musibah. Saya terpuruk. Saya nelangsa.

Ya, benar. Ini adalah musibah. Penyakit adalah hal yang dipandang negatif, keburukan bagi sebagian besar manusia. Ditambah lagi saya jadi ikut-ikutan membenci-Nya. Sempurna sudah musibah ini menimpa saya. Padahal sebenarnya, bisa saja Allah SWT tengah menguji saya. Apakah penyakit ini dapat menggugurkan dosa-dosa sebagaimana mestinya atau justru memperkeruh kubangan dosa saya akibat terus menerus menyalahkan takdir-Nya?

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di satu titik akhirnya saya sadar. Apalah artinya membenci Lupus, bila itu hanya akan membuat raga semakin pupus. Jika cinta bisa membuat saya bangkit, maka mencintai Lupus seharusnya tak akan lagi mampu membuat saya sakit. Setidaknya, meskipun raga terkapar, namun jiwa tetap tegar, juga bahagia. Bahagia membayangkan bergugurannya dosa-dosa.

Semakin saya mengenal Lupus, semakin saya mencintainya. Mencintai karena-Nya. Karena dengannya saya semakin yakin akan kebesaran Allah Sang Pencipta. Lupus adalah ayat-Nya yang tersembunyi dalam rasa sakit. Maka tugas saya adalah untuk bangkit, lalu menemukan hikmahnya tanpa perlu sibuk mengeluh lagi.

Apakah mungkin benci bisa berubah menjadi cinta? Tentu saja! Bukankah banyak kisah cinta yang berawal dari benci? Justru seringkali cinta yang seperti ini bisa lebih langgeng dibanding yang dari awalnya selalu manis.

Mencintai Lupus, berarti ingin mengenalnya lebih jauh. Apa itu Lupus? Oh, Lupus adalah penyakit autoimun. Penyakit ini berasal dari sistem kekebalan tubuh kita sendiri. Rupanya, kekebalan tubuh pun harus bekerja sesuai aturan, karena jika tidak, dia justru akan menyerang organ tubuhnya alih-alih melawan musuh seperti kuman dan benda asing lainnya. Pada Lupus, organ tubuhnya sendiri dianggap sebagai benda asing. Lupus dapat menyerang sendi, darah, jantung, kulit, paru, ginjal, bahkan saraf dan otak sehingga dapat menimbulkan gejala yang sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah demam tanpa penyebab yang jelas, fatigue atau kelelahan yang luar biasa dan tidak membaik dengan istirahat, nyeri sendi, kerontokan rambut hingga menimbulkan kebotakan, pembengkakan pada kelenjar getah bening atau persendian, sesak napas, nyeri dada, masalah pencernaan, kejang, dan emosi yang tidak stabil hingga depresi.

Jika saja tidak ada penyakit semacam ini, apakah pernah terbersit dalam benak kita betapa Allah SWT mengatur kekebalan tubuh kita sedemikian detailnya? Mungkin saja tidak. Maka sudah semestinya, semakin mengenal Lupus, kita pun akan semakin mencintai Sang Pencipta.

Mengenal sesuatu lebih jauh, berarti juga harus mengetahui kebiasaannya. Hal yang disukai dan tidak. Ternyata Lupus itu suka menunjukkan dirinya bila kita mengalami stres emosional, kelelahan yang berlebihan, paparan sinar matahari, infeksi, dan cedera. Lupus dapat dikendalikan sehingga gejalanya tersembunyi dengan melakukan pengobatan secara teratur dan tidak menghentikannya secara tiba-tiba, menerapkan pola hidup sehat, menghindari makanan berpengawet, pewarna, perasa, dan penyedap, olah raga teratur (yang direkomendasikan adalah berenang), dan istirahat cukup. Bila kita sudah mengenalnya lebih jauh, maka kita bisa berupaya mencegahnya agar tidak bangun dan membuat kekacauan. Cukup menjadi bagian dari diri kita, namun bersembunyi dengan tenang selamanya.

Mudah bukan? Begitulah teorinya. Saya sebagai dokter sudah lama mempelajarinya. Saya mengetahuinya sejak mata kuliah penyakit autoimun saat preklinik, bertahun-tahun silam. Namun rupanya mengetahui saja tidaklah cukup. Mengetahui dan mengerti itu berbeda jauh rupanya.

Saya harus berdamai dengan Lupus, melunturkan rasa benci dan menjadikannya sebagai sahabat. Berjalan beriringan menatap masa depan. Saya tak perlu menghindarinya, bahkan saya harus semakin mencintainya lebih dan lebih lagi.

Jika bisa berdamai, mengapa harus berperang?

(bersambung ke part 2)

 

Please rate this

Komentar