Lupus dan Aktivitas Fisik No ratings yet.

Lupus CareBanner, Info Publik

featured-lupus-dan-aktivitas-fisik

dr. Astari Anggara Dewi / dr Ayu Paramaiswari, SpPD, KR

Divisi Rheumatology Departemen Ilmu Penyakit Dalam

FK UGM / RSUP Dr Sardjito 

Sebagaimana yang sudah kita tahu, lupus adalah suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan keterlibatan banyak organ seperti sendi, kulit, paru-paru, ginjal, dan sistem saraf. Masalah yang sering dirasakan oleh Odapus adalah penurunan aktivitas fisik. Beberapa hal yang menjadi penyebab adalah halangan aktivitas fisik pada odapus adalah rasa kelelahan (fatigue), serta gejala atau keluhan yang berkaitan dengan lupus itu sendiri seperti nyeri sendi, kesemutan, osteoporosis, kulit yang sensitif, gangguan paru-paru, dan anemia. Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa individu dengan lupus memiliki kapasitas kardiovaskular yang rendah, kurangnya kekuatan otot, penurunan kapasitas olahraga, dan kurangnya fungsi paru pada saat istirahat yang diukur dengan rerata volume ekspirasi paksa, serta penurunan kapasitas aerobik.

Aktivitas fisik didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan oleh aksi otot dan tulang yang menyebabkan konsumsi energi. Aktivitas fisik dikatakan sebagai latihan fisik apabila gerakannya terencana, terstruktur, dan repetitif.

Aktivitas fisik pada lupus memiliki beberapa manfaat terutama dalam proses penyakit lupus, seperti memperbaiki resiko kardiovaskular, keluhan psikologis, kebugaran fisik, kualitas hidup, dan kelelahan yang diukur secara obyektif dengan menggunakan skala keparahan kelelahan yaitu Fatigue Severity Scale. Aktivitas fisik juga diketahui memperbaiki fungsi endotel, meningkatkan kapasitas latihan dan aerobik tanpa memperburuk aktivitas penyakit lupus itu sendiri. Untuk kesehatan tulang, latihan fisik reguler juga telah terbukti memiliki fungsi proteksi terhadap disolusi tulang dan mencegah penurunan densitas tulang secara progresif. Latihan fisik juga dapat memperbaiki kualitas tidur.

Lantas kapan dapat melakukan latihan fisik? Latihan fisik bagaimana yang disarankan?

Walaupun dari beberapa penelitian pasien SLE dapat mentoleransi dan mendapatkan keuntungan dari latihan fisik, perlu digarisbawahi bahwa penelitian-penelitian tersebut melibatkan pasien dengan aktivitas penyakit ringan sampai sedang, dengan skor SLEDAI <4. Dari suatu meta-analisis menyertakan pasien-pasien SLE dengan skor SLEDAI 2 – 5,6 untuk melihat efek latihan aerobik. Aktivitas fisik tidak disarankan bagi pasien yang sedang mengalami aktivitas penyakit yang tinggi.

Terdapat 3 jenis latihan fisik, yaitu latihan rentang gerakan, kekuatan, dan endurans. Latihan rentang gerakan dapat menurunkan kekakuan sendi dan menjaga fleksibilitas sendi. Terdapat dua jenis latihan rentang gerakan, yaitu gerakan aktif dan pasif, yang membutuhkan asistensi untuk melakukan gerakan.

Latihan kekuatan dapat membantu menjaga kekuatan otot, dimana otot yang kuat menjaga agar sendi tetap stabil. Terdapat dua jenis latihan kekuatan diantaranya adalah latihan isometrik, dimana otot berkontraksi namun tidak menggerakan sendi, dan latihan resistif isotonik yang melibatkan pergerakan sendiri. Latihan isometrik bermanfaat untuk penguatan sendi namun dengan proteksi sendi. Latihan isotonik resistif melibatkan gerakan dengan beberapa bentuk tahanan eksternal, seperti dengan theraband, atau beban ringan.

Latihan endurans atau aerobik memperbaiki kebugaran kardiovaskular. Beberapa latihan endurans yang dapat dilakukan adalah berjalan, berenang, dan bersepeda statis.

Yang penting diperhatikan sebelum memulai latihan fisik adalah mendiskusikan terlebih dahulu dengan dokter yang menangani. Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan dibawah supervisi dari terapis fisik terlebih dahulu. Penting juga untuk mengetahui apakah suatu latihan yang dilakukan dirasa berlebihan. Latihan yang berlebihan akan menimbulkan gejala: rasa lelah yang persisten atau tidak biasa, penurunan rentang gerakan, bengkak sendi yang bertambah, dan nyeri sendi atau otot yang berlangsung >2 jam setelah latihan. Oleh karenanya, konsultasi dan pengawasan oleh ahli menjadi bagian penting dalam memulai dan melakukan aktivitas fisik.

 

Referensi:

  1. Ayan C., Martin V., Systemic lupus erythematosus and exercise. Lupus. 2007;16(1):5–9. pmid:17283578.
  2. O’Dwyer, T., Durcan, L., Wilson, F., Exercise and physical activity in systemic lupus erythematosus: A systematic review with meta-analyses. Semin Arthritis Rheum. 2017;47(2):204–15. pmid:28477898.
  3. Sharif, K., Watad, A., Bragazzi, N.L., Lichtbroun, M., Amital, H., Shoenfeld, Y., Physical activity and autoimmune diseases: Get moving and manage the disease. Autoimmun Rev. 2017. pmid:29108826.
  4. Marhefka, D., Price L., Exercise and Lupus. 2000. Chapman University

Please rate this

Komentar